Jumat, 20 Januari 2012

Our Project! :)

Diposting oleh Atika Ayu Kusuma di 06.05
By: Atika Ayu Kusuma & Deri Dwi Pratiwi
Bismillah, ini novel bikinan gue sama riri tapi belom selesai dan masih banyak kurangnya. Keep reader :)

Adrian Pratama (Jakarta-Pagi)

 
Pukul 5.00 WIB, aku melihat jam weker yang berada dimeja belajarku. Aku langsung buru-buru terbangun, meregangkan badanku dan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengambil air wudhu.
            
Aku selalu rutin bangun antara pukul 04.30-05.00, selain untuk melakukan kewajibanku sebagai umat muslim yaitu shalat subuh akupun selalu mengaji sehabis shalat. Entah mengapa mengaji diwaktu ini membuat hatiku tentram.
            
Selesai melakukan shalat dan mengaji akupun menuju kamar mandi lagi untuk apalagi kalau bukan untuk mandi. Hari ini adalah hari senin selain tiap hari ini sekolahku mengadakan upacara bendera jalanan Jakarta pun tidak pernah bersahabat tiap hari ini, maka aku harus berangkat lebih pagi lagi.
          
Selesai mandi, aku memakai seragam putih abuku yang bertempelkan bet lokasi “SMA Tunas Bangsa”. Ya, sekolahku merupakan sekolah swasta yang favorit di kota metropolitan ini. Kau tidak tahu betapa senangnya aku memakai seragam ini, karena akan banyak kenangan selama aku memakai seragam ini. Pada saat aku kelas 10 kemarin ketika menjuarai olimpiade sains se-kota Jakarta aku mengenakan seragam ini, pada saat aku bolos sekolah pun aku mengenakan sragam ini, juga ketika aku bertemu pertama kali dengan murid baru dan menyatakan cintaku padanya hingga dia menjadi milikku sekarang pun aku sedang memakai seragam putih abu ini.
            
Yah, Sarah Tridewi atau Sasa menjadi alasan terpenting aku semangat melangkahkan kaki ke sekolah. Setelah rapih, aku keluar kamar menuju bagasi rumahku dan memanaskan motor ninja-ku lalu menuju kerumah Sasa-ku. Aku ingin selalu menjadi orang pertama yang melihatnya setelah keluarganya.

Kalian pasti bingung mengapa aku tidak berpamitan pada orang rumah? Aku sedang malas dengan mereka, aku terlahir dari keluarga broken home. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adikku perempuan yang masih duduk dikelas 9 SMP.

Rumahku dan rumah Sasa tidak begitu jauh, hanya menempuh sekitar 4-5 km dari rumahku. Rumah Sasa sudah terlihat dari kejauhan, aku membuka kaca helm-ku berhenti tepat didepan rumahnya, aku membunyikan klakson 3 kali sebagai tanda aku sudah ada didepan rumahnya. Dengan sabar aku menunggu bidadari cantikku keluar menemuiku.
 
Sarah Tridewi (Jakarta-Pagi)


Pukul 5.30 WIB. KRIIIIIINGGG!!

Oh Thanks God, aku bisa bangun pagi. Tapi rasanya badanku sulit sekali untuk tidak menempel pada springbed ini. Ah rasanya ingin memutar waktu lagi menjadi hari minggu, dimana aku selalu bisa puas tidur dan terbangun di siang hari.

              
Aku turun dari springbed-ku, keluar dari kamarku dan turun ke bawah. Rasanya aku ingin memeluk mama pagi ini. Yap, benar saja mamaku sudah sibuk menyiapkan sarapan untukku, ayah, dan kakak laki-lakiku mas arya.

             
Menu sarapan pagi ini adalah, nasi goreng. Yumm, aku suka sekali nasi goreng buatan mamaku ini. Aku meneguk susu cokelat yang sudah disiapkan pula oleh mama.

            
“Eh, kamu ini kebiasaan banget yah sa. Belum mandi tapi udah turun ke bawah buat sarapan”, mama mengomel lembut sembari geleng-geleng kepala melihat kebiasaan burukku.

            
“hehe ngga apa-apa yah ma, abis sasa laper banget semalem ga makan nih.” Kataku sambil menyendokkan nasi goreng dan telor ceplok ke piringku.

            
Mas Arya pun turun ke bawah sudah rapih dan wangi pikirku. Dia sudah berumur 18 tahun dan saat ini berkuliah di Universitas Indonesia mengambil jurusan ekonomi . Uh, kelak akupun ingin seperti Mas Arya bisa berkuliah disana mengambil jurusan psikologi pastinya, karena aku sangat tertarik sekali dengan pengembangan diri dan sebagainya yang berhubungan dengan psikologi.

              
Tak lama kemudian ayahku juga turun dengan ciri khasnya dia menyapa kami semua,

          
“Selamat pagi anak-anaku dan istriku tercinta” katanya sambil mencium kening ku dan mama. Ayah tidak pernah mencium mas arya lagi karena mas arya pernah diledek teman-temannya semasa SMP saat ayah menciumnya didepan sekolah. Tapi menurutku ini hal yang harus dilestarikan ditiap keluarga agar kehangatan selalu terjaga pada keluarga tersebut.

            
Seluruh anggota keluargaku berkumpul di meja makan, kami berbincang-bincang sambil menyantap nasi goreng mamaku yang super enak ini. Ah, indahnya keluargaku. Terimakasih Tuhan, telah memberikan keluargaku kebahagiaan hingga pagi ini.

            
Aku melirik ke arah jam dinding, hmm pukul 6 kurang. Aku langsung naik ke lantai atas rumahku dan menuju kamar mandi. Hanya 10 menit aku mandi dan keramas, waktu yang sebentar bukan? Haha. Pas sekali aku baru saja selesai mandi terdengar klakson motor Ian yang sudah setaun belakangan ini selalu terdengar tiap pagi hari. Sambil melihatnya dari jendela kamarku dan tersenyum aku pun langsung ke bawah menemuinya walaupun rambutku masih dibalut handuk begini.

Adrian-Sasa-dan Keluarganya
(Jakarta-Pagi 06.10)

Aku tidak perlu lama menunggu Sasa, dia sudah muncul dengan seragam abu-abunya dan rambutnya masih terbalut handuk.

           
“pagi sayaang, ayo masuk dulu kamu belum sarapan kan? Mamaku masak nasi goreng kesukaan kamu loh” ajaknya ceria.
            
Aku hanya tersenyum dan masuk kerumahnya yang lumayan besar dan minimalis itu. Sasa menggandeng tanganku sambil mengajak masuk kerumahnya.
Aku menggandeng tangan dan mengajaknya masuk kerumahku. Aku tahu betul dia pasti belum sarapan, hmm kebiasaan buruk sekali. Memang dia pernah bercerita bahwa dia sangat tidak terbiasa sarapan dari dia mulai bersekolah dasar. Tapi aku ingin membiasakan dia untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas seharian, maka dari itu semenjak kami memutuskan untuk berasama aku ingin mengubah gaya hidupnya yang sepele tapi buruk menjadi gaya hidup yang baik toh itu juga untuk kepentingannya kan? Itu semua aku lakukan karena aku sangat menyanyanginya.
            
Tidak pernah aku bertemu laki-laki seperti ian, lelaki yang aku temui sebelumnya hanya datang dan pergi, mereka tidak bisa meredam emosiku saat aku marah, malah kebanyakan meninggalkanku. Tidak seperti ian, dia selalu bisa menenangkanku disaat apapun juga dan aku sangat nyaman berada disampingnya dia bisa menjagaku dengan sangat baik. That’s why I love him.
           
“Eh, Ian ayo sarapan dulu. Duduk sini nak sebelah Arya.” Kata mama ramah setelah melihat Ian yang baru datang.
           
“Sini yan, duduk sebelah gue kita belum selesai nih ngomongin lensa kamera temen lo yang mau dijual itu yang lo tawarin ke gue?” ka Arya pun ikut ramah pada Ian, mereka memang sudah cukup dekat karena hobi mereka pun sama. Fotografi
            
Ian hanya tersenyum, “Ian kamu mau aja jadi ojeknya anak rese kaya Sasa.” Canda papa dan semua pun tertawa kecuali aku yang cemberut. Huh!
             
Aku pun naik keatas untuk mengambil tas sekolah dan menyisir rambutku kemudian memakai sepatu, sementara Ian dibawah, sarapan bersama keluarga kecilku yang bahagia.

Aku merasa sangat bahagia setiap berada ditengah-tengah keluarga Sasa karena disanalah aku menemukan arti sebuah kekeluargaan yang tidak aku temukan di lingkungan keluargaku. Tapi bersama sasa dan keluarganya lah aku temukan kebahagiaan itu. “Hari ini kamu mau kemana sa?” Tanya Ian kepada sasa pacarnya yang sedang sibuk mencari sebuah barang yang akan ditunjukkan kepada Ian.

“Ian, liat deh” sambil menyodorkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya kepada Ian. “Apa ini sa?” jawab Ian sambil penasaran dan lebih mendekati sasa.

“Ini loh sayang gelang yang waktu itu kita lihat di pameran deket pertunjukan di senayan, masih inget gak?” tambah sasa dengan penuh yakin. “ Oh. Iya aku inget yang waktu itu kamu ngerengek-rengek sama aku minta di beliin bukan? Saking ngambeknya aku malah di tinggalin sendirian di pameran itu.” Ketawa Ian kepada Sasa. 

“Uuuh... kamu ngeledek aku?” sambil memukul manja ke arah Ian. mereka terlalu larut dalam kebersamaan di pagi itu dan jam pun menunjukkan pukul 06.30, hampir saja mereka telat tidak lama kemudian mereka pun bergegas pergi menuju sekolah.



Back a Remember



Jakarta, Sore hari
(Teras depan rumah Sasa)

Aku melamun ketika melihat keceriaan keluarga Sasa, rasanya aku iri dengan mereka setiap kali aku mengantarkan Sasa pulang ke rumah kehangatan dari dalam rumah tersebut terpancar begitu syahdu. Sejenak memori itu kembali hadir dalam ingatanku.

“Pokonya aku minta CERAI!!”
Terdengar pecahan kaca membisingkan seisi rumah, entah apa yang terjadi di luar sana aku tidak ingin melihatnya. Saat itu aku berumur 15 tahun cukup labil untuk remaja seusiaku melihat pertengkaran orang tuanya, sedangkan adikku yang masih berusia 12 tahun hanya dapat menangis dan ketakutan apa yang sedang terjadi antara ayah dan bundanya.

Acha panggilan untuk adikku Rasya Utami, ia terus menerus menanyakan padaku apa yang terjadi antara ayah dan ibu kami. “Aku diam, aku kesal, aku benci, aku ingin pergi dari neraka ini!!” Geramku sambil tertunduk menahan amarah.

“Ka Ian gak tahu apa yang terjadi diluar sana, mungkin ayah dan bunda sedang bermain sandiwara.” aku mencoba untuk menenangkan adikku yang sedang menangis terseguk-seguk.

“Apakah ayah dan bunda sedang bertengkar karena kenakalan kita ka?” tanya Acha ingin tahu
“Tidak adikku sayang.” Sambil menghembuskan nafas panjang dengan penuh ketenangan dan yakin aku kembali mencoba menjawab pertanyaan kecil dari Acha.
Secepat kilat Acha yang berada di sampingku memegang lengan bajuku dan berkata kembali “Kalau tidak kenapa ayah dan bunda berteriak sekencang itu? Acha takut ka, Acha gak mau ayah dan bunda bertengkar”

Lagi-lagi aku harus terus mencari jawaban pasti untuk adikku, namun belum sempat aku berkata apa-apa adikku bertanya kembali “Kalau memang ayah dan bunda bertengkar gara-gara Acha nakal, Acha janji, Acha gak akan nakal lagi sama ayah dan bunda Acha mau jadi anak baik dan menurut sama ayah dan bunda.” Jawaban polos yang terucap oleh anak seusia Acha membuat hatiku merasa teriris oleh sebilah pisau tajam dan hampir mati perlahan.

“Semua akan baik-baik saja sayang.” aku mengelus kepala adikku dan memeluknya dengan erat, mencoba terus meyakinkan padanya bahwa semua tidak akan seperti yang di bayangkan dan akan baik-baik saja.

Aku meneteskan air mataku setelah beberapa jam mencoba untuk tidak memikirkan dan mempedulikannya. Namun, aku menyerah aku tidak kuat menahan sesak yang terlalu sakit. PECUNDANG!! Begitu aku menyebut diriku sebagai pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa.


“Tuhan, inikah cobaan yang kau berikan kepada keluargaku? 
Bisakah secepatnya berakhir? Bisakah ayah dan bunda tidak bertengkar lagi? 
lihatlah adikku yang setiap hari menangis dan bertanya apa yang terjadi dengan orang tuanya selama ini? 
Tidakkah kau lihat itu Tuhan.. !!”


Day by day.. kehidupan dalam keluargaku berubah menjadi dingin, Ayah dan bunda yang acapkali terlihat sedang bersandiwara di depan aku dan Acha memperlihatkan kemesraan mereka di meja makan pagi ini. Aku muak melihat sandiwara mereka, mungkin bagi Acha semua pertengkaran mereka kemarin-kemarin hanya pertengkaran kecil yang berujung kedamaian dan kembali pada suasana seperti biasa. Tapi TIDAK dengan aku!.

“Ian, bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya ayah jelas. “Baik.” Singkatku
“Mmhh.. bagaimana kalau lusa kita pergi piknik bersama? Sudah lama kan kita tidak pergi piknik bersama lagi? iya kan bunda?”
“Iya benar, bunda setuju sekali dengan rencana ayah lusa depan.” Jawab bunda melengkapi sandiwara di pagi hari ini.
“Acha setuju banget yah, bun ayo kita pergi piknik, ka Ian setuju kan?” Acha memukul kecil ke arah ku yang sedang tercengang melihat sandiwara ayah dan bunda.

Mereka sukses membohongi Acha!!

“Oh iya, ka Ian lupa cha lusa ka Ian ada janji mau pergi hunting bareng temen ka Ian. jadi kayanya ka Ian gak bisa ikut deh. Gak apa-apa kan?” Jawabku tersenyum sungging berharap jawaban itu dapat menggagalkan sandiwara mereka.
“Yaaaah.. ka Ian, padahal itu adalah moment yang baik buat kita bareng-bareng lagi.” bujuk Acha merayuku. namun, lagi-lagi Acha tidak berhasil membujukku aku pun bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah dan berpamitan kepada mereka.
“Ka Ian gak bisa Acha. Yah, Bun Ian berangkat. Assalammualaikum.” Aku pun meluncur dengan cepatnya dari hadapan mereka.


“I don’t know what’s worth fighting for
Or why i have to scream
I don’t know why i instigate
And say what i don’t mean
I don’t know how i got this way
I know it’s not alright
So im breaking the habit
Im breaking the habit
Tonight..”

Lagu ini tepat menemani selama perjalananku menuju ke sekolah Breaking the habit-nya Linkin Park” memang lagu inilah yang setiap kali ku dengar ketika aku merasakan amarah yang memuncak. Namun aku tidak bisa mengungkapkan perasaan yang sakit ini yang aku lakukan hanya diam dan menahannya entah sampai kapan aku meredam amarahku kepada ayah dan bunda.

Di hari kemudian tidak sengaja aku ke ruang kerja ayah mencari buku yang ayah janjikan dahulu kepadaku dan tersimpan di lemari ruang kerja ayah. Ya buku yang berjudul “A Game Of Shadows-Sherlock Holmes.” Yang menceritakan serangkaian teror bom pembuka intrik politik tingkat tinggi Holmes yang berperan sebagai Detektif menyamar menjadi seorang perempuan dan berkamuflase menyatu dengan dinding seperti halnya seekor bunglon untuk menghancurkan niat jahat Moriarty musuh bebuyutan Holmes. sementara aku sedang asik mencari dimana buku itu diletakkan aku tidak sengaja melihat map hijau diatas meja kantor ayah.

Tidak biasanya ayah meletakkan map diatas meja kantornya, map-map kerja ayah biasanya di letakkan di tempat yang sudah disediakan. Ini hal yang tidak biasa yang aku lihat, namun dengan segera aku menghampiri meja kantor ayah dan dengan rasa penasaran aku membuka map tersebut dengan perlahan.

Perasaan tidak enak mulai menghampiri sekujur tubuhku, keringat jatuh perlahan dari kepala dan membasahi dahiku. Perlahan demi perlahan aku buka map tersebut. Dan.. OH MY GOD!! Pikiranku ternyata benar. “SURAT GUGATAN CERAI”

“GOD!! Please, this isn’t true, isn’t it?”
“What happen with it!! Seperti pisau menusuk jantung dan mencabik-cabiknya perlahan.

“Benarkah ayah dan bunda akan bercerai? Jika benar lalu bagaimana dengan Acha? Ia pasti sangat kecewa sekali.” Ucapku dalam hati. Acha, adik kecilku yang malang ini sangat menyayangi sekali ayah dan bunda. Ia termasuk adik yang sangat penurut dan pintar, ayah dan bunda pun sangat menyayanginya. Bagaimana tidak Acha terlahir dengan kondisi fisik yang lemah. Jelas sekali teringat di pikiranku saat bunda menceritakan perihal kelahiran Acha padaku. bunda melahirkan Acha malam hari tepat tanggal 5 desember 12 tahun yang lalu. Ayah sedang dinas keluar kota, hanya ada aku dan ibu di rumah. usiaku saat itu sekitar 3 tahun lebih. Dalam kondisi yang kesakitan bunda dengan kuatnya mencoba menelpon salah satu kerabat terdekat kami.

Tante Lis, dia adalah adik yang terakhir dari keluarga bunda yang saat itu tante Lis masih menjadi seorang mahasiswi di Universitas Swasta ternama di Jakarta. Tante Lis datang ke rumah dan segera membawa bunda ke rumah sakit. Aku yang saat itu tidak mengerti apa-apa hanya diam melihat bunda sedang berjuang menyelamatkan adikku yang akan lahir malam ini, tiba di rumah sakit aku dan tante Lis menunggu di luar. Sementara dokter sedang berusaha menyelamatkan bunda dan adikku di dalam ruangan sana.

Tidak lama teriakan tangis kecil adikku menyerukan seisi ruangan bersalin tersebut. “Tante, adik Ian sedang menangis.” Tanyaku polos kepada tante Lis sambil berjinjit berusaha untuk memegang pipi tante yang tengah duduk di kursi. “Iya sayang, tante denger kok, Ian senang yah punya adik baru.” Jawab tante yang berusaha menggendongku ke arah dokter.

Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan dokter kepada tante Lis, kelihatannya begitu serius sekali. Lalu bagaimana dengan adik dan bundaku?

Saat itu aku tidak mengerti apa-apa kondisi adikku sangat lemah sekali begitu pula dengan kondisi bunda. Acha adik kecilku yang malang terlahir dengan kondisi yang sangat lemah karena lambatnya pertolongan saat itu, dan ayah yang sedang pergi dinas baru tiba di jakarta lusa nanti. 

Dua hari sudah Adik kecilku yang malang (begitu aku memanggilnya) berada di ruang kecil yang sangat hampa dengan peralatan bantuan pernapasan dan peralatan lainnya jantungnya yang sangat lemah dan nafasnya yang sangat lambat membuat resah para suster dan dokter, apakah adikku dapat bertahan hidup atau tidak? Sedangkan bunda yang masih terkulai lemas di tempat tidur sehabis berjuang melawan hidup dan matinya untuk melahirkan adikku masih belum menunjukkan tanda-tanda yang membaik.

Begitulah sebabnya mengapa aku terlalu memikirkan Acha!

“Acha tidak boleh tau tentang map ini.” Tegasku kembali membereskan kertas tersebut kedalam map.

Dengan langkah cepat aku pergi keluar ruang kerja ayah, berjalan dengan santai dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di ruangan tersebut. Aku putar otak untuk meringankan beban pikiran hari ini.

(Memutar lagu Menjemput Impian – Kla Project)

Indah larik pelangi, seusai hujan membuka hari
Samar dirajut mega, garis wajahmu lembut tercipta
Telah jauh kutempuh perjalanan
Bawa sebentuk cinta, menjemput impian

Desau rindu meresap, kenangan haru kudekap
Semakin dekat tuntaskan penantian
Kekasih, aku pulang
Menjemput impian

Kau dan aku, jadi satu
Arungi laut biru
Tak kan ada yang kuasa
Mengusik haluannya

Kau dan aku, jadi satu
Sambut datangku

Sekian lama waktu telah mengurai makna
Cinta kita gemerlap terasah masa
'Kan kubuat prasasti, dari tulusnya janji
Walau apa terjadi, tetap tegak berdiri

Kau dan aku jadi satu
Bersama kita jemput impian


Sebuah lagu yang seringkali diputar oleh ayah dan bunda saat kami asik ber-karaokean di rumah menjelang weekend tiba. Air mata pun jatuh ke pipiku. begitu terasa sekali perubahan keluargaku saat ini, hampir saja aku ingin mati dibuatnya.

IT’S NOT A DREAM!!

“Sayang..”
Terdengar suara lembut Sasa memanggil-manggilku yang tengah terbawa hanyut dengan lamunanku.
“Oh.. iya maaf ya Sa, ada apa sayang?” Jawabku kaget yang masih terbawa suasana masa lalu
“Kamu kenapa sih? Dari tadi aku panggil-panggil gak jawab?” tanya Sasa penuh heran
“Ah, aku gak apa-apa ko Sa, Cuma sedikit cape aja ko.” Segitu saja balasanku pada Sasa yang masih terheran-heran dengan sikapku.

“Oh.. are you sure oke honey?” tanya Sasa lebih meyakinkan lagi
“Iya.. aku fine ko Sa.” Aku memegang tangan Sasa dengan erat dan meyakinkan kepadanya sambil mencium kening Sasa.


“ Kenangan itu memang tidak akan pernah luput di makan masa
Sekecil apapun masalah dan sekuat apapun aku menjalaninya
Aku tetaplah manusia yang rapuh yang terbungkus dengan selembar kain putih
mudah ternodai dengan apapun. Perceraian ayah dan bunda bukanlah alasan
untuk aku menyerah. Acha membutuhkan aku begitupula dengan Sasa.
Ayah dan bunda yang sudah hampir 4 tahun berpisah memberikan pelajaran bagiku
Bahwa tidak selamanya Bahagia akan kekal abadi dan tidak selamanya pula Kekalutan membaluti kehidupan.
Inilah kehidupan..
Aku kuat karena ada mereka, Ayah dan bunda, Acha, Dan especially Sasa.” 






*Sarah - Adrian* 

I DON'T KNOW HOW TO..


Sasa (Jakarta-Sore) kamar Sasa


Aku merasakan ada yang aneh dari Ian, aku cukup lama mengenalnya. Tidak biasanya dia bersikap aneh seperti siang tadi, walau dia sudah mencoba meyakinkan tapi aku masih ragu. Tapi jangan salah sangka aku tidak berpikir negatif malah aku takutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Tidak sekali ini saja Ian bersikap aneh, bahkan akhir-akhir ini aku sering mendapatinya melamun saat denganku, atau tidak sengaja aku memperhatikannya dari jauh ketika di sekolah. Ian, kamu kenapa? aku ini kekasihmu kan? bukankah kita sudah janji kalau ada apa-apa tidak ada rahasia, dan selalu bercerita ketika ada masalah.


Oh, tuhanku.. andai aku memiliki kemampuan indera ke-6 membaca pikiran oranglain!! Pikiranku dipenuhi oleh bayang-bayang Ian, dan aku hampir melupakan tugas biologi dari Bu Iin. Aku segera mengambil tas-ku, mencari buku catatan biologi dan mengerjakan tugas. Tapi sial, pikiranku lebih kuat untuk memikirkan Ian daripada mencari jawaban 5 soal essay tugas biologi ini. Aku membenamkan wajahku ke bantal. Huaaaah!


Ian (Jakarta, Kamar Ian-Sore)

Aku merasa bersalah pada Sasa, mungkin tidak sekali ini saja dia berpikir aku ini aneh. Ya, aku sadari aku merasa lebih sering murung, melamun, diam, tidak fokus dan lain-lain. Mudah-mudahan saja ini tidak membuatku jadi gila dan masuk rumah sakit jiwa.


Aku tidak bisa membohongi bahwa aku makin memikirkan kejadian 2 tahun lalu, begitu teganya ayah dan bunda melakukan itu. Rasanya aku tidak bisa menahan tangisku ketika aku ingat kenangan-kenangan manis saat aku dan Acha adikku masih kanak-kanak. Beda sekali dengan 2 tahun belakangan ini. Bahkan ayah sudah tidak tinggal dirumah ini lagi, dia lebih memilih menyewa apartemen di kawasan BSD City. Bunda? Tidak jauh beda, dia jarang berada dirumah. Mungkin bisnisnya banyak dan dia hanya ada dirumah saat malam hari itupun kadang aku sudah terlelap tidur. Paginya saat dia baru bangun, dan aku sudah siap berangkat sekolah. bayangkan, betapa sulitnya kami memiliki kualitas waktu untuk bersama? Aku merindukan itu!!! Saat keluarga ini utuh.


Aku melihat foto keluarga dimeja belajarku, terlihat kami sedang piknik bersama di Kota Bunga- Cianjur 3 tahun yang lalu. Pikiranku langsung mem-flashback ke 3 tahun yg lalu. Kami sedang berada di taman. saat itu bunda membawa nasi goreng, makanan kesukaanku dari semua daftar masakan bunda, aku paling menyukai nasi gorengnya. Ada pula hotdog kesukaan Acha, dan sandwich telur kesukaan ayah. kami tertawa bersama, aku dan Acha bermain kejar-kejaran, ayah dan bunda hanya tertawa mesra sambil melihat kami berdua, ayah pun sibuk mem-foto kami, kadang gantian denganku. Hanya 1 foto kami ber-empat, ya foto yg kupajang ini. Airmataku makin deras....


"Kak, kenapa menangis?" Tanya Acha yg tiba-tiba sudah disampingku. Aku pun tersentak kaget, "Ah kakak cuma ngantuk. Cape banget kakak tadi abis main basket juga" dustaku pada Acha.
"Sejak kapan kakak suka main basket?" Tanya Acha bingung
Aku pun gugup, aku bingung harus berkata apalagi pada adikku yang paling kusayang ini,"Oh, iya kakak mulai suka basket nih. hehehe. Udah kamu ke kamar aja yah kakak mau tidur sebentar."
"Iya kak, tapi nanti maghrib bangun ya kita solat bareng sama ngaji bareng." Kata Acha sambil tersenyum manis dan beranjak dari kamarku.
Aku pun hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman penuh semangat. Aku memiliki semangat lagi, aku harus menyatukan ayah dan bunda lagi!


Akupun merencanakan sesuatu untuk menyatukan mereka kembali, oh iya aku baru ingat hari ini kan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 18 tahun? Ide-ide mulai bermunculan dalam otakku. Aku pun mengambil ponsel menghubungi ayah, bunda, dan restoran langganan keluarga kami.


THE PLAN AND THE GREAT ARGUMENTS!

Ian (Jakarta-Malam hari- Restoran Bandar Jakarta)


Aku dan Acha berada di meja nomer 18, ya seperti ulang tahun pernikahan ayah bunda kami, 18. "Kak, aku seneng banget loh. kan udah lama kita ga makan bareng disini. terakhir tuh kapan sih? pas kita masih SMP kan yah kak?......" dan masih banyak celotehanAcha sampai tidak terasa kami sudah menunggu ayah atau bunda selama hampir sejam.


To be continued......

0 komentar:

Posting Komentar

 

My beautiful real life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review